Senin, 11 Januari 2010

Wisata Situs Masa Keemasan Majapahit


Inginkah Anda merasakan sensasi yang membangkitkan rekaan tentang kehidupan ratusan tahun silam ketika Kerajaan Majapahit (abad XIII- abad XV) mencapai masa kejayaannya? Jejak masa keemasan itu ada di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Mungkin inilah satu-satunya situs kota di Indonesia yang luasnya sekitar 11 km x 9 km (99 km persegi) dan menyimpan ratusan ribu peninggalan arkeologis, baik yang sudah ditemukan maupun yang masih terkubur.

Mampirlah ke kolam kuno Majapahit, Segaran, yang memiliki panjang 375 m dan lebar 125 meter, dengan ketinggian dinding 3,16 meter. Kolam yang sampai saat ini masih dialiri air tersebut tak ubahnya telaga di tengah kota. Pada zaman Majapahit, Segaran merupakan tempat rekreasi sekaligus tempat untuk menjamu tetamu dari luar negeri.

Konon, saking makmurnya kerajaan ini, setelah perjamuan usai, peralatan makan, seperti sendok dan piring yang terbuat dari emas, dibuang ke kolam (Mengenal Kepurbakalaan Majapahit di Daerah Trowulan, I Made Kusumajaya, Aris Soviyani, Wicaksono Dwi Nugroho).

Sempatkan juga mengunjungi situs Wringin Lawang dan duduk di pelatarannya yang asri. Gapura berbentuk simetris dan dibangun dari batu merah ini diduga merupakan bagian dari tembok keliling kota. Temuan-temuan arkeologis yang ditemukan di sekitar situs berupa sumur-sumur kuno menguatkan dugaan bahwa wilayah ini dulunya merupakan kawasan permukiman. Suasana di sekitar situs yang relatif sepi, hamparan rumput yang luas dengan semilir angin yang tak henti, membuat tempat ini menjadi tetirah yang menenangkan.

Menikmati

Begitu banyak situs penting di Trowulan sehingga untuk menikmatinya mungkin membutuhkan waktu lebih dari sehari. Di antaranya, ”ikon” Trowulan: Candi Brahu dan Candi Tikus. Candi Tikus merupakan bangunan petirtaan yang memiliki puluhan pancuran. Juga sejumlah makam (yang kerap dikeramatkan), seperti makam Putri Campa (permaisuri Raja Majapahit terakhir, Brawijaya), pekuburan Islam kuno Troloyo yang membuktikan adanya komunitas Muslim di dalam kota kerajaan Majapahit, dan makam Panjang yang menunjukkan adanya penghuni Trowulan sebelum era Majapahit.

Untuk ”menyatukan” mozaik pemahaman yang didapatkan lewat situs-situs yang tersebar di Kecamatan Trowulan, ada baiknya kita meluangkan waktu ke Museum Trowulan yang jaraknya tak jauh dari situs Segaran. Di sini gambaran kejayaan Majapahit tersajikan secara lebih utuh dan sistematis.

Kebetulan, kunjungan pada pertengahan November itu bertepatan dengan Pameran Majapahit yang diselenggarakan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia yang bekerja sama, antara lain, dengan Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Pameran ini memperkaya pemahaman pengunjung tentang tingkat peradaban di Trowulan pada era Majapahit, mulai dari sistem pemerintahan, perdagangan, hubungan luar negeri, teknologi, arsitektur, pertanian, hingga seni kerajinan.

Situs yang berada di sebelah selatan halaman Museum Trowulan, misalnya, memperlihatkan sisa-sisa bangunan permukiman pada era Majapahit. ”Hasil penggalian ini sangat penting karena menunjukkan struktur lengkap sebuah rumah zaman Majapahit, termasuk selokan dan saluran airnya,” kata guru besar luar biasa Departemen Arkeologi FIPB Universitas Indonesia, Prof Dr Moendardjito, sambil menunjuk ke arah situs permukiman BPA (balai penyelamatan arkeologi). Moendardjito saat ini merupakan Ketua Tim Evaluasi, Rehabilitasi, Relokasi, dan Rancang Ulang Pusat Informasi Majapahit di Trowulan.

Kekaguman makin bertambah ketika saya diizinkan menengok ruang penyimpanan benda-benda purbakala berupa koleksi benda-benda terakota, keramik, logam, dan batu yang masing-masing memiliki ”gudang” sendiri. Koleksi yang jumlahnya ribuan ini tidak dipamerkan untuk umum. ”Kami masih memiliki puluhan ribu koleksi lainnya yang disimpan di tempat rahasia, demi alasan keamanan,” kata Fatoni dari Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Mojokerto.

Mungkin ini hari keberuntungan saya, bisa mengamati koleksi langka nan indah yang menggambarkan peradaban maju pada masa silam. Kemampuan para perajin logam (emas, perak, kuningan, perunggu, tembaga, besi) pada era itu telah mencapai tingkatan empu. Bahkan, lonceng dari logam untuk gantungan di leher sapi pun ditatah dengan cita rasa tinggi. ”Coba lihat lampu minyak ini. Indah sekali kan,” kata arkeolog Ni Ketut Wardhani dari BP3 Jatim yang bertanggung jawab terhadap ruang penyimpanan benda-benda logam.

Di ruangan ini pun yang tersimpan hanya sebagian koleksi museum, kebanyakan berupa benda-benda keseharian, seperti sanggurdi (pijakan untuk kaki pada pelana kuda), gong, aneka perhiasan, peralatan sesaji, dan kelat bahu.

Dari patung sampai batik


Saat ini, talenta masyarakat Trowulan dalam seni kerajinan logam, batu, maupun terakota tetap terpelihara. Perajin logam, khususnya kuningan, dapat ditemui di sepanjang Dusun Kedungwulun, Desa Bejijong. Aneka cendera mata, dari tingkat kesulitan yang mudah sampai sangat rumit, tersedia di sini dengan harga yang terjangkau.

Pengunjung pun bisa meninjau langsung proses pembuatannya yang meliputi pembuatan model dari lilin, pencetakan, pembakaran, pengecoran, penuangan, penghalusan, dan pewarnaan. Sebuah proses yang panjang dan rumit, yang butuh ketelitian, kesabaran, dan cita rasa.

Demikian juga dengan seni pahat batu. Kami sempat menemui salah satu pemahat batu terbaik di sini, Sutikno, yang karyanya dikoleksi sejumlah hotel dan bar di dalam dan luar negeri. Di bengkel kerjanya terdapat patung Buddha raksasa, pesanan kolektor dari luar negeri, dan beragam patung batu lain yang terinspirasi benda-benda purbakala peninggalan masa Majapahit.

Bahkan, batik pun ada di sini. Namun, perlu kesabaran bertanya untuk bisa menemukan lokasinya. Warga setempat umumnya mengernyitkan dahi mendapat pertanyaan tentang ”batik Mojokerto”. Adalah Erna, perempuan setengah baya yang keluarganya secara turun temurun meneruskan tradisi membatik dengan canting (tulis) di kediamannya di kawasan Surodinawan. Bisa jadi, dia kini tinggal satu-satunya pembatik yang masih produktif di Mojokerto.

”Kekhasan batik Mojokerto itu ya pada simbol Surya Majapahit. Itu patennya,” kata Erna yang biasanya menyelesaikan sepotong kain batik sekitar satu bulan. ”Karena membatik itu harus pakai hati. Kalau lagi gelo (susah hati), lebih baik tidak usah meneruskan membatik,” kata perempuan yang sehari-hari menjadi guru sekolah dasar ini. Batik tulis halus buatan Erna selain bermotif khas Surya Majapahit (lingkaran yang melambangkan sinar matahari) juga dicampur dengan motif ” merica bolong”, ”beras tumpah”, dan motif-motif primitif.

Kini, di mana tempat paling pas untuk menutup rangkaian wisata situs ini? Di salah satu rumah makan yang berjejer di depan Kolam Segaran. Menunya, tentu saja khas Mojokerto, ikan wader, nasi panas, lalapan, sambal tomat, dan sebutir kelapa muda penghapus dahaga….

(KOMPAS)

1 komentar:

  1. wah tertarik nih saya mau berkunjung kesana sekalian bertemu dgn para leluhur majapahit,

    BalasHapus