Rabu, 06 Januari 2010

Besakih Hulunya Bali, Kesucian dan Alam Dijaga, SDM-nya Ditingkatkan


BESAKIH adalah hulunya secara sekala dan niskala Pulau Bali. Klian Desa Pakraman Besakih, Rendang, Karangasem, I Wayan Gunatra, mengaku sedikit bimbang, saat temu wirasa dan dialog jejaring kerja yang digelar Pasraman Besakih, belum lama ini. Kebimbangannya, terkait menatap masa depan dengan tanggung jawab krama Besakih yang diperkirakan bakal dituntut lebih tinggi. Soalnya di wewidangan (wilayahnya) ada pura kahyangan jagat Besakih yang harus lebih terjaga dari kesucian dan kelestarian alamnya. Sementara, dari enam desa yang ada di Kecamatan Rendang, kondisi krama di Desa Besakih termasuk yang paling terbelakang. Padahal di sana ada pura besar, pura kahyangan jagat Besakih dengan 18 gugus (palebahan) pura. Kegiatan aci atau pujawali mencapai ratusan kali dalam setahun di semua pura itu. ‘’Kalau SDM krama di Besakih tetap atau tak ditingkatkan tanpa ada kepedulian berbagai pihak, kita sangat khawatir ke depan dalam melaksanakan Tri Hita Karana hanya sebatas konsep,’’ katanya.

Bagi Gunatra kini tak ada lain, peningkatan SDM krama Besakih dimulai dari gerenasi muda. Tentunya sulit tercapai dengan hanya menunggu program dari pemerintahan, tetapi perlunya kalangan masyarakat luas yang peduli. ‘’Karena itu, berbagai upaya yang digagas dan dilakukan pihak Kelompok Media Bali Post dengan keberadaan Pasraman Besakih yang idenya dalam rangka menggelar berbagai kegiatan, kami selaku bendesa pakraman sangat mendukungnya,’’ paparnya.

Menurutnya, setelah gairah umat dalam ber-yadnya dalam bentuk upakara dan upacara tinggi, tinggal kini mayadnya dalam bidang peningkatan kualitas SDM. Tak semata orientasinya mengejar keterampilan untuk mengisi lapangan kerja, tetapi bagaimana untuk tujuan yang lebih luas ke depan menghadapi tantangan akibat globalisasi. Dengan meningkatnya kualitas SDM, diharapkan kesadaran dan pemikiran bagaimana menjalankan purana atau bhisama Ida Batara bisa lebih baik.

Kesadaran umat serta pihak yang berkepentingan ke Besakih mampu menjaga kesucian pura atau palemahan baik secara sekala maupun niska- la. Secara sekala, lingkungan harus tetap dijaga bersih, jangan sampai masih ada pemedek usai muspa, sisa bunga atau canang dan dupa dibiarkan begitu saja di mana dia duduk. Selain itu, usai makan di jaba pura, sampah harus dibuang di tempatnya atau tong yang sudah disediakan.

Sementara hutan mesti dijaga. Besakih merupakan kaki lereng Gunung Agung yang merupakan hulu Bali. Secara sekala, wilayah itu semuanya merupakan kawasan yang mesti dilindungi, sebagai penyangga atau wilayah tangkapan atau resapan air hujan.

Dalam berbagai kesempatan Bupati Karangasem I Wayan Geredeg, mengatakan setelah dibaca pada intinya purana yang di-sungsung di Besakih intinya berisi bhisama bahwa penyalin (pohon rotan) tak boleh ditebang. Disebutkan jangan sekali sekali menebang pohon rotan, apalagi yang ada di Gunung Agung.

Menurut Geredeg, itu artinya umat mesti menjaga lingkungan hidup atau ibu pertiwi karena lingkungan hidup itu merupakan tempat di mana kita hidup. Ibu pertiwi itu juga memberikan segala sesuatu yang kita perlukan seperti menyediakan pasokan air serta buah-buahan (pala gantung) dan umbi-umbian (pala bungkah). Diakui Gunatra kesadaran umat untuk beryadnya dalam bentuk upakara dan upacara sudah sangat tinggi. Namun bagi Gunatra, hal itu belum lengkap kalau dari segi kualitas atau pendidikan SDM pendukungnya tak ditingkatkan. Pemikiran yang tentunya ditunjang pendidikan, diharapkan memunculkan kesadaran untuk berbuat lebih baik dari selama ini. Diharapkan kawasan Pura Besakih sebagai kahyangan jagat dan pusat spiritual atau hulu Bali, tak hanya berhenti sebatas sebagai tempat bersembahyang. Dari Besakih diharapkan memancarkan kekuatan spiritual dan terpancarnya kesadaran bersama untuk menjadi lebih baik lagi. (Bali Post)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar